Humus Untuk Kesuburan Tanah Pertanian

Keberadaan humus telah diketahui sejak zaman dahulu kala. Di eropa, bangsa romawi kuno mendefinisikan istilah “Humus” yang berarti tanah atau bumi. Jauh sebelumnya, penulis romawi telah menghasilkan beberapa karya ilmiah yang diantaranya memuat bentuk sederhana klasifikasi tanah dan metode yang tepat untuk penggunaan pupuk kandang yang berasal dari kotoran hewan, termasuk kotoran manusia yang diklasifikasikan tersendiri untuk beberapa jenis tanaman pangan dan hortikultura. Kotoran merpati pun juga termasuk kedalam salah satu jenis pupuk kandang yang paling berharga diantara jenis-jenis pupuk kandang lainnya.

Istilah “Humus” kemudian digantikan dengan “terra” pada tahun ke-1 sebelum masehi dan selanjutnya istilah humus menghilang dari berbagai literatur dunia untuk hampir selama 1800 tahun. Namunpun demikian konsepnya tidak pernah hilang. Untuk hampir selama 2000 tahun lamanya hingga pertengahan abad ke-18, ilmuwan memahami empat elemen sebagaimana filosofi Aristoteles yaitu: bumi, udara, api dan air. Sangat sedikit sekali kemajuan dibidang ilmu tanaman. Tanaman menyerap unsur organik dari tanah melalui akar dan membutuhkannya secara terus menerus. Pemikiran ini pertama kali diobservasi dan diuji coba juga oleh Aristoteles yang menjelaskan temuannya. Kesimpulan tersebut pun masih memiliki beberapa kesalahan dengan progress perkembangan ilmu tanaman yang lama.

Seiring bertambahnya populasi dan intensifikasi sistem pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan, mendorong kebutuhan untuk penjelasan yang lebih baik mengenai nutrisi tanaman. Pada tahun 1700an, Hale mendemonstrasikan transpirasi pada tanaman, Jethro Tull merekomendasikan penggemburan tanah secara periodik untuk menghasilkan lahan yang gembur dan buku-buku pertanian mulai mempromosikan betapa pentingnya “garam” untuk pertumbuhan tanaman. Namunpun demikian kemajuan ini masih sedikit digunakan oleh rata-rata petani yang sudah mengenal baca tulis dan akses ke buku-buku literatur, mereka kembali ke lahan dengan cara tradisional yang telah bertahan selama berabad-abad.

Kemudian adanya usaha-usaha yang terus menerus untuk menemukan pupuk kandang yang cukup. Tuan tanah memonopoli persediaan kotoran domba dan sapi di lahan mereka sendiri serta mengumpulkan pupuk kandang dari pasar desa dan pertokoan, pupuk kandang menjadi salah satu benda yang dicari. Permasalahan kemudian mulai diperparah didaerah dimana kayu bakar mengalami kelangkaan dan menggunakan kotoran hewan yang kering untuk  dibakar sebagai bahan bakar perapian dan masak. Di daerah-daerah tersebut, batu kapur, sedimen atau lumpur digali dan disebarkan dilahan-lahan pertanian. Rumput-rumput dipotong, dikeringkan dan dibakar serta abunya ditebarkan kelahan. Beberapa pengusaha pun berusaha memproduksi pupuk dari bahan jelaga, abu, butiran kapur dan garam tambang.

Pada tahun 1700 an istilah “humus” kemudian kembali muncul di eropa yang berarti “tanah lempung”atau “rabuk”. Linnaeus menggunakan istilah “humus” pada sistem klasifikasi tanah sama seperti sistem klasifikasi yang juga ia susun untuk tanaman. Dari awal tahun 1800-an humus menjadi salah satu subyek perdebatan diantara para ahli agronomi, ilmuwan tanah dan ahli kimia. Kekayaannya akan unsur hara mengalami kepopuleran pada 200 tahun kemudian. Suatu ketika terpusat pada teori nutrisi tanaman, humus dikesampingkan untuk selama 100 tahun yang kemudian kembali populer sebagai solusi beberapa kerusakan lingkungan. Manlay et al. (2007) membagi periode ini menjadi tiga periode yaitu: Periode Humic (sebelum 1840), Periode Mineralis (1840 – 1940) dan Periode Ekologi (1940-2000).

Periode Pertanian Humic (Sebelum 1840)

Pada pergantian abad ke 19, belenggu filosofi Aristoteles pada akhirnya mulai ditinggalkan. Proses fotosintesis ditemukan dan eksperimen yang dilakukan telah menunjukkan bahwa proporsi terbesar dari bahan penyusun tanaman kering berasal dari air dan udara, bukan tanah itu sendiri (Fussel 1971). Temuan ini menjadi bahan perselisihan pendapat para ilmuwan yang mempromosikan teori humus, yaitu adanya asimilasi humus terlarut pada akar tanaman atau heterotrofi kimia sebagaimana yang kita kenal saat ini.

Salah satu ilmuwan yang mewakilinya yaitu Albrecht Thaer, seorang agronomis Jerman yang melakukan eksperimen kebun dan guru pendidikan agrikultur pertama di Eropa. Ia memberikan gambaran lengkap tentang humus sebagai “…residu pembusukan hewan dan tanaman…” (Dikutip dari Feller 1997). Humus, terutama yang terlarut dalam air mendidih, menyediakan “jus nutrisi” bagi tanaman (Feller et al. 2003). Thaer menulis secara produktif mengenai agrikultur dan salah satu hasil tulisannya yang paling terkenal adalah “Principles of Rational Agriculture” diterbitkan dalam empat volume di Berlin pada awal 1860-an. Meskipun dalam teori humusnya banyak kesalahan, sistem Thaer tentang Agrikultur Rasional sangatlah brilian. Merupakan sistem perhitungan pertama untuk kesuburan tanah, berurusan dengan hubungan antara tanah – tanaman, serta sistem tersebut menjawab pertanyaan mengenai Pertanian Berkelanjutan (Sustainable Agriculture). Secara praktek, sistem tersebut adalah sebuah kesalahan. Sistemnya terlalu kompleks dan tidak bisa diverifikasi karena pengetahuan dan teknik analisanya belum ada dimasa tersebut. Namunpun demikian, salah satu peninggalan Thaer adalah upaya promosi humus dan usaha yang tidak berkesudahan dalam mencari pupuk kandang, membawa kemajuan progresif bagi cara petani untuk kemudian mempraktekkan sistem bera lahan (istirahat tanam) untuk lahannya dijadikan ladang gembala. Produktifitas meningkat, lebih banyak ternak yang bisa dibudidayakan serta kualitas dan kuantitas pupuk kandang pun meningkat.

 

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2018
Bagikan:

Sponsor

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.